Friday, January 13, 2012

AKTUALISASI ILMU KEADABAN DALAM KADERISASI HMI KOMISARIAT ADAB; IKHTIAR TERWUJUDNYA KADER PARIPURNA

 
MOQODIMAH
Berpijak pada diskusi internal (forum refleksi setahun kepengurusan HMI Komisariat adab priode 2010-2011) yang di adakan oleh pengurus HMI KOMISARIAT ADAB bersama MPK HMI di secretariat, alhamdulilah arah kebijakan ini bisa tersusun. Ide dan gagasan ini muncul  dari berbagai kegelisahan akan permasalahan organisasi tentang situasi dan kondisi di HMI komisariat adab. Problematika pengurus HMI ADAB sangat fleksibel mulai dari masalah akut kejumudan berorganisasi, naik turunya militansi kader, dan minimnya kualitas intelektual kader dalam Ber-HMI dan bidang ke keilmuannya. Perlu adanya formulasi-formulasi yang solutif untuk menghantarkan berbagai permasalahan internal kepengurusan tersebut supaya tidak menular kepada kader-kader lain. Hal ini menjadi pertimbangan MPKHMI Komisariat adab dalam merumuskan arah kenijakan ini, upaya untuk menyegarkan pengkaderan HMI ADAB dalam terciptanya suasana berorganisasi yang masif sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan kader untuk berjuang di Himpunan ini. Di samping itu semangat Girah ber HMI kader baru harus di jaga melalui kontrol kepengurusan yang militant, agar terdapat wujud dinamika baru untuk mengaktualisasin potensi dan semangt girah kejuangan kader dalam pengurusan baru.


Sebenarnya arah kebijakan ini adalah tindak lanjut dari arah kebijakan kepengurusan kemarin  Menumbuhkan Ghirah Ber-HMI; Upaya Terciptanya Kemandirian Kader. Girah dimaknai sebagai esensi yang melekat pada watak kader dalam mengaktualisasikan, semangat dan militansi kuat untuk bergerak dan berjuang di HMI serta menciptakan kesadaran baru. kader haruslah di berdayakan oleh HMI yang memfungsikan diri sebagai organisasi kader, maka setiap gerak langkah organisasi harus dilaksanakan dalam rangka memberdayakan para anggotanya yang secara implisit menjadi bagian yang harus dikader. Kader HMI haruslah siap dikader, mengkader diri dan mengkader orang lain. Hal ini mendasari bahwa setiap kader HMI harus merasakan dirinya sebagai bagian dari kader dan Himpunan itu sendiri. Setiap kader harus menciptakan kesadaran individu dan kesadaran kolektif seluruh aktivis HMI. Kesadaran inilah yang dapat membuat nilai plus bagi diri kader HMI. Sebab, HMI bukanlah organisasi profit yang dapat memberikan jaminan financial, juga tidak pernah memaksakan anggotanya untuk berproses. Hanya kesadaran dan panggilan intelektual seorang kader harus berproses dalam menggeluti realitas social ditengah masyarakat. Dengan demikian, secara fungsional organisasi, orang yang dipercaya sebagai pengurus dalam kepengurusan komisariat, cabang, sampai PB HMI (Pengurus Besar) harus dapat memainkan peran ini.

Komisariat sebagai tonggak pengkaderan mempunyai arah kebijakan yang menjadi turunan dari arah perjuangan HMI Cabang Jogjakarta yakni Re-Objektifikasi Nilai Kekaderan dan Kejuangan HMI; Ikhtiar Mewujudkan Kader Paripurna. Nilai kekaderan dan kejuangan Hmi dimaknai sebagai keteguhan iman kita pada suatu idealism secara konsisten yakni harus memahami dasar perjuangan dan medan perjuangan HMI. Kader harus mempunyai nalar dan langkah tepat pada medan perjuangan guna untuk menetapkan langkah-langkah ataupun metode-metode massif yang harus di tempuh berupa program kerja dan ilmu yang luas. Keteguhan iman akan menciptakan suatu idiologi untuk membenarkan realitas medan perjuangan atas kerja nalar dan kerja nyata. Disampi\ng itu keteguhan iman menciptakan kesadaran individu dan kolektifitas; Menumbuhkan Ghirah Ber-HMI. Ilmu yang luas diharapkan melahirkan metode konstruktif terhadap realitas, serta dapat memecahkan permasalah secara solutif yang dihadapi ataupun di temukan pada kepengurusan. Sedangkan kemandirian kader dimaknai sebagai individu kuat dan independen, yang hanif dan berjuang ikhlas lilahitaalla.

    1. INTEGRASI ILMU KEADABAN DAN NILAI KEJUANGAN HMI; AKTUALISASI  ILMU KEADABAN DALAM KADERISASI HMI KOMISARIAT ADAB

Integrasi disini dimaknai sebagai penyatuan antara ilmu keadaban dengan nilai kejuangan hmi yang mempunyai orientasi sama dalam memajukan peradaban umat, bangsa dan Negara ini. Ilmu keadaban sendiri adalah ilmu yang bergerak dinamis dalam menopang kebudayaan dan peradaban umat.

Ilmu keadaban sendiri mempunyai banyak klasifikasi ilmu dan tersebar pada derifasi keilmuan yang menopang pada madaniyah (civilization), hadlarah (peradaban), tsaqofah (kebudayaan). Turats (tradisi) dan fikr (pemikiran). Kelima aspek keilmuan diatas memiliki kajiaan yang saling tumpang tindih tetapi dengan tingkat spesifikasi dan generalitas yang berbeda. Madaniyah adalah ruang keilmuan yang general mencakup hadlarah (peradaban), tsaqofah (kebudayaan). Turats (tradisi) kesenian, kesusastraan, ilmu pengetahuaan gaya hidup personal dan komunal. Sedangkan hadlarah mempunyai tingkat generalitas dibawah madaniyah, sebab ia hanya mencakup aktivitas akal budi pekerti atau pemikiran-pemikaran yang menjadi basis produk material. Sedangkan tsaqofah lebih spesifik karena hanya terpokus pada sisi pemikiran dalam hadlarah baik pada tatanan teoritis maupun praktis,. Adapun turats menunjukan pada produk hadlarah (peradaban) dibidang pemikiran, kesusastraan kesenian termasuk diantaranya adalah tradisi rakyat. Dan fikr merujuk pada dimensi teoritis pemikiran dalam tsaqofah (kebudayaan). Melihat presfektif ilmu keadadaban ini tergolog dalam ilmu humaniora sperti ilmu bahasa, sejarah, kebudayaan, keasripan, perpustakaan. Maka tidak sedikit Perguruan tinggi/UIN/IAIN yang ada di Indonesia menamakan fakultas Adab di tambah dengan ilmu humanira ataupun ilmu budaya menjadi Fakultas Adab dan Humanora ataupun Fakultas adab dan ilmu Budaya.

Ilmu keadaban haruslah menjadi pencerahan terhadap ilmu lain yang sudah tersekulerisasikan dengan ilmu-ilmu barat. Dalam hal ini ilmu keadaban dapat mereflesikan  nilai kesejarhan dan peradaban islam yang maju pada fase abad pertengahan terhadap realitas empiric. Disamping itu ilmu keadaban dapat melestarikan nilai-nilai budaya local sehingga kader HMI Komisariat adab dapat menjadi insane yang cinta akan ilmu, menjadi intelektual besar, pemikir-pemikir handal dalam merespon tantangan global. Disamping itu kader yang cinta akan ilmu keadaban ini diharapkan mempunyai canter Hegemoni terhadap ilmu dan budaya asing (sekulerisme dan westernisme global) sebagai ikhtiar mewujudkan masyarakat madani.

Kader HMI komisariat adab harus dapat menginternalisalidan dan mengaktualisasikan apa yang menjadi bacis need dan basic interest? Keilmuan kader itu sendiri. Secara individu kader harus terampil atau ahli dalam bidang keimuannya. Dan sebagai kolektivitas dalam berorganisasi di Himpunan ini kader harus mengembangkan potensi pribadinya dan kesadaran girah ber-HMI upaya untuk merealisasikan individu yang pakar dalam keilmuan dan siap berkorban dengan ikhlas untuk berjuang dalam mencapai tujuan HMI “ terciptanya insane akademis pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT” pasal 4 Anggaran Dasar HMI. Untuk itu semua diperlukan formula- formula yang luar biasa, formula luar biasa inilah yang nantinya meletakkan HMI pada porsinya, dimana HMI dapat diterima semua kalangan dan bermanfaat untuk ummat.

Agar mencapai target yang optimal dalam menjalankan organisasi HMI di komisariat Adab, pertama kader harus mampu memahami tujuan, nilai- nilai dasar perjuangan dan medan perjuangan HMI serta ilmu yang luas, kemudian diaktualisasikan dalam wadah organisasi. Kedua memasifkan komunikasi antar pengurus maupun anggota agar terciptanya keharmonisan dan kesolidan kepengurusan yang masif.

HMI Komisariat Adab harus berangkat lebih jauh ketika kesadarn girah ber-HMI tumbuh akan melahirkan militansi yang kuat. Semua itu harus ditopang dengan landasan keimanan sebagai basis ideology dan ilmu keadaban sebagai paradigma yang dibangun terhadap aktualisasi kejuangan dan kekaderan HMI itu sendiri. Diharapkan dengan terciptanya integrasi ilmu keadaban dan nilai kejuangan HMI, kader-kader HMI Komisariat Adab dapat dapat mengaktualisasikan diri untuk mengisi lokus-lokus kosong keilmuan. baik itu dalam tubuh pengkaderan HMI itu sendiri, maupun terhadah keilmuan-keilmuan yang menopang peradaban. Maka dari itu akan muncul ilmuwan ataupun intelektual baru yang tercerahkan oleh kesadaran untuk berjuang bagi agama, bangsa dan negaranya. Sosok kader paripurna inilah yang akan bergerak sistematis, terorganisir, secara istiqomah dengan kokohnya benteng keimanan lalu ditopang oleh dasar idiologi perjuangannya dan ilmu yang luas akan menjadi tulangpunggung bagi kelompok yang lebih besar.

Kader HMI Komisariat adab haruslah mereka berkualitas dan mempunyai nilai lebih dari mahasiswa lainnya. sebagai mahasiswa mereka terampil atau ahli dalam bidang keimuannya. Sebagai kader mereka memiliki kesadaran untuk berlatih dan mengembangkan potensi pribadinya guna menyongsong masa depan umat, peradaban,  Negara, bangsa Indonesia. Sebagai pejuang mereka ikhlas, bersedia berbuat dan berkorban guna mencapai cita-cita umat islam dalam menopang peradaban dan kemajuan bangsa Indonesia kini dan mendatang. Inilah yang menjadi landasan kaderisasi pendidikan di lingkungan HMI. Komisariat adab haruslah membina kader dengan wawasan keilmuan keadaban dan wawasan kepemimpinan sesuai fungsi dan perannya

Berarti kegiatan HMI komisariat adab merupakan pendidikan kader (kaderisasi) dengan sasaran anggita-anggota HMI dalam hal: (A) watak dan kepribadiaannya yaitu dengan memberikan kesadaran agama, akhlak dan watak yang menjelma menjadi individu yang beriman, berakhlak luhur,memiliki watak ontektik serta memiliki pengabdiaan dalam arti hakiki. (B) kemamapuan keilmuanyang luas, terutama ilmu keadaban. Yaitu dengan membina anggota sehingga memiliki keilmuaan dan pengetahuan serta kecerdasan dan kebijaksanaan. Seorng kader hmi komisariat adab dituntut sebagai intelektual yang paripurna yang tidak hanya pakar pada bidang keilmuannya akan tetapi ia akan memperluas cakrawala keilmuannya ditambah dengan kecerdasan dan kebijaksanan karena is sadar seebagai hamba allah yang mempunyai tanggung jawab social. (C) keterampilannya. Pandai dan cerdas menerjemahkan ide juga pikiran dalam praktik. Dengan terbinanya 3 sasaran tersebut maka terbinalah 5 insan cita HMI yang beriman berilmu dan beramal.
Kaderisasi ataupun pendidikan di komisariat harus dioptimalisasikan oleh kepengurusan yang menciptakan suasana nyaman dalam berorganisasi. Ketika system kaderisasi itu sudah berjalan konsekuensinya secretariat menjadi tempat dan pusat keilmuaan dan keadaban. Sekretariat menjadi kampus kedua bagi kader untuk berikhtiar dan berjuang dalam himpunan ini. Fungsi dan peran secretariat harus di masifkan.

    2. DARI KADER MILITAN HMI ADAB MENUJU KADER PARIPURNA

Girah dan semangat ber Hmi akan menciptakan kemandirian kader secara individu. Sedangkan cecara kolektifitas organisasi kemandirian kader ini haruss dinaungi dalam wadah organisasi dan sistem pengkaderan HMI Komisariat adab. Semangat Ghirah Ber-HMI; Upaya Terciptanya Kemandirian Kader harus dimaknai secara kolektivitas dan menumbuhkan militansi kader (kader militan). Kader militan adalah kader Independen, yang bersedia berproses mengembangkan potensi dan berjuang dengan ikhlas. Disamping itu kader yang miltan harus bias memahami azas, tujuan, idiologi dasar perjuangan dan medan perjuangan yang ada di Himpunan ini. Kader militant ini nantinya akan bermetamorfosis menjadi kader paripurna.

Kader miltan idealnya mengetahui indefedensi etis HMI yang merupakan karakter dan kepribadian kader. Watak independen HMI terwujudkan secara etis dalam bentuk pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader HMI. Juga  teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk "Independensi organisatoris HMI".Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan merupakan watak azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui, watak dan kepribadiaan serta sikap-sikap yang : Cenderung kepada kebenaran (hanief); Bebas terbuka dan merdeka, Obyektif rasional dan kritis, Progresif dan dinamis dan Demokratis, jujur dan adil. Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI.Ini diartikan bahwa dalam keutuhan roda kepengurusan HMI Adab secara massif senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan komisariat dan segala usaha program kerja dapat terwujud. Dalam melakukan partisipasi partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI Komisariat Adab hanya tunduk serta komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas.

Kader militant adalah proses menjadi insane pelopor yang berfikiran luas dan  berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu `perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan man of future”. Tipe ideal dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka  itu manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu  beramal  saleh dalam kualitas yang maksimal sebagai kader Paripurna.

Selainitu kader paripurna dituntut menerapkan “ethic” tinggi,nilai-nilai yang merepresentasikan seorang yang paripurna. Kader HMI  harus mempunyai kekuaatan moral”moral force” dalam masyarakat. senantiasa harus bersikap kritis dan menciptakan perubahan terhadap realitas. Kader haruslah berkomitmen kepada kebenaran, keadilan dan kejujuran. Karena ilmu yang luas saja tidak cukup perlu adanya kekuatan moral moral force”  untuk membentenginya. Disamping itu kader paripurna adalah pelopor yang mempunya inisiatif avant garde, untuk prakarsa pertama dalam setiap situasi dan kondisi untuk memenuhi tuntutan zaman yang selalu berubah. Kepeloporan dapat di miliki oleh orang yang memiliki tiga sarat sebagai beriku; (1) memiliki ilmu pengetahuan yang luas (2) memahami permasalahan yang menyeluruh sampai keakar-akarnya (3) memiliki kemauan, keinginan untuk melaksanakannya.

Tulisan ini merupakan draf arah perjuangan ataupun arah kebijakan HMI Komisariat Adab UIN Sunan Kalijaga Priode 2011-2012

0 comments:

Post a Comment